ANGKA melek huruf (AMH) Kalimantan Tengah (Kalteng) sudah nyaris menyentuh 100 persen. Berdasarkan Susenas Maret 2025, AMH penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 99,18 persen.
Namun, capaian tinggi itu belum dirasakan secara merata oleh semua kelompok masyarakat. Ketika data dibedah berdasarkan usia, jenis kelamin dan kondisi ekonomi, kelompok lanjut usia (lansia), khususnya perempuan, masih berada pada posisi yang paling rentan.
Statistisi Ahli Muda di lingkup Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalteng, Desti Isna Purwani, mengatakan kelompok lansia menjadi salah satu kelompok yang masih tertinggal dalam kemampuan dasar membaca dan menulis.
“Berdasarkan data Susenas Maret 2025, kelompok lanjut usia, terutama perempuan dan mereka yang berasal dari rumah tangga dengan kondisi ekonomi lebih rendah, merupakan kelompok yang relatif lebih rentan tertinggal dalam kemampuan dasar membaca dan menulis,” katanya, Selasa (8/9).
Data BPS menunjukkan AMH penduduk usia 15–24 tahun sudah mencapai 99,84 persen, sedangkan usia 25–59 tahun sebesar 99,71 persen. Angka tersebut turun menjadi 95,23 persen pada kelompok usia 60 tahun ke atas.
Kesenjangan paling terlihat ketika kelompok lansia dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. AMH lansia laki-laki mencapai 97,64 persen, sementara perempuan hanya 92,36 persen.
Artinya, masih ada jarak 5,28 poin persentase antara kemampuan dasar membaca dan menulis lansia laki-laki dan perempuan.
“Kelompok lanjut usia, terutama perempuan, merupakan kelompok yang relatif lebih rentan tertinggal,” tegasnya.
Kondisi ekonomi rumah tangga turut memperlihatkan pola serupa. Pada kelompok usia 60 tahun ke atas, AMH masyarakat dari 20 persen rumah tangga dengan kondisi ekonomi teratas mencapai 98,12 persen.
Sementara itu, AMH lansia dari 40 persen rumah tangga terbawah hanya 93,08 persen. Selisihnya mencapai 5,04 poin persentase.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa di balik AMH Kalteng yang secara umum sudah tinggi, masih ada kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.
“Terutama mereka yang berasal dari rumah tangga dengan kondisi ekonomi lebih rendah,” ujar Desti.
Perbedaan berdasarkan wilayah memang tidak sebesar kesenjangan usia, jenis kelamin dan ekonomi. AMH penduduk usia 15 tahun ke atas di wilayah perkotaan mencapai 99,40 persen, sedangkan perdesaan 99,00 persen. Pada kelompok lansia, AMH perkotaan tercatat 95,59 persen, sementara perdesaan 94,95 persen.
Di tengah capaian AMH yang tinggi, BPS mengingatkan bahwa kemampuan membaca dan menulis hanyalah fondasi awal. Sebab, persoalan literasi hari ini jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan mengenali huruf dan membaca tulisan.
Desti mengatakan AMH tetap penting untuk mengukur kemampuan dasar masyarakat.
“AMH tetap menjadi indikator penting untuk menggambarkan kemampuan dasar masyarakat dalam membaca dan menulis,” katanya.
Dengan AMH mencapai 99,18 persen, menurutnya, Kalteng sebenarnya sudah memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan kemampuan literasi masyarakat ke tahap berikutnya.
“Capaian ini menjadi modal penting untuk pengembangan literasi yang lebih luas,” ujarnya.
Persoalannya, kemampuan literasi tidak berhenti setelah seseorang mampu membaca sebuah kalimat. Masyarakat juga dituntut mampu memahami informasi, menilai apakah informasi tersebut benar dan relevan, kemudian menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi tidak hanya berarti bisa membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana seseorang memahami informasi, memilah informasi yang benar dan relevan, serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Desti.
Hal itu menjadi tantangan tersendiri di tengah derasnya informasi digital dan media sosial. Kemampuan membaca perlu dibarengi kemampuan memahami dan menyaring informasi agar masyarakat tidak sekadar mampu membaca, tetapi juga mampu menentukan informasi mana yang layak dipercaya. (zia/ala)

