Wujud Keberanian dan Harapan Budaya Dayak Yang Tak Pernah Padam

oleh

MUARA TEWEH – Kemeriahan Festival Budaya Iya Mulik Bengkang Turan (IMBT) 2026 di Kabupaten Barito Utara semakin terasa dengan digelarnya lomba sepak sawut, permainan tradisional khas suku Dayak yang menggunakan bola dari kelapa yang dibakar. Perlombaan yang berlangsung selama dua malam, pada Kamis dan Jumat (25-26/6) malam. Hal ini menjadi salah satu atraksi yang paling menyita perhatian pengunjung di Lapangan Kompi Raider, Muara Teweh.

bannerads728x90

Sepak sawut atau yang lebih dikenal dengan sepak bola api merupakan permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman dulu dan menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat Dayak. Koordinator Lomba Sepak Sawut, Muhammad Ismi, menjelaskan bahwa bola yang digunakan dalam perlombaan ini terbuat dari kelapa yang direndam dalam bahan bakar sebelum dinyalakan, sehingga menciptakan atraksi bola berapi yang spektakuler.

PERLOMBAAN: Proses Final Perlombaan Sepak Sawut sebagai bagian dari Festival Budaya Iya Mulik Bengkang Turan yang dilakukan di Lapangan Kompo Raider, Jumat (26/6).

“Untuk lomba sepak sawut ini sudah tradisi atau budaya dari dulu dari adat Dayak. Permainannya itu dilakukan dan bola yang dibakar,” ujar Muhammad Ismi saat ditemui di lokasi perlombaan, Sabtu (27/6).

Lomba yang terbuka untuk seluruh perwakilan dari sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Barito Utara ini tidak hanya menjadi ajang hiburan semata. Ismi mengungkapkan bahwa festival ini juga berfungsi sebagai wadah seleksi untuk mencari bibit-bibit atlet berbakat yang nantinya akan dikirim untuk berkompetisi di tingkat provinsi.

“Kalau untuk gelaran ini ya gelaran festival budaya Iya Mulik. Tapi nantinya diseleksi sehingga nanti dikirim ke tingkat provinsi Kalimantan Tengah. Di Palangkaraya itu setiap bulan Mei pas hari ulang tahun provinsi diadakan semua lomba-lomba yang ada di festival Isen Mulang,” jelasnya.

Tujuan jangka panjang dari penyelenggaraan lomba ini adalah untuk mencari bibit atlit agar bisa mengikuti festival budaya Isen Mulang di Palangkaraya. Dengan adanya pembinaan sejak tingkat kabupaten, diharapkan atlet-atlet Barito Utara mampu berprestasi di kancah provinsi.

Meskipun lomba ini rutin digelar setiap tahun dalam rangkaian Festival IMBT, eksistensi permainan sepak sawut di masyarakat sendiri masih bervariasi. Ismi mengakui bahwa tidak semua daerah/kecamatan masih aktif memainkan tradisi ini.

“Kalau untuk eksisnya tergantung daerah, tergantung desa. Kalau untuk kemarin adanya dari koordinator dari Gunung Pure atau Lampeong itu katanya tetap melaksanakan kegiatan tersebut walaupun cuma tingkat desa atau tingkat kecamatan. Kalau di tempat lain untuk sepak sawut kayaknya masih ada, belum banyak yang membudayakannya,” terangnya.

Sebagai salah satu warisan budaya leluhur, Ismi berharap agar tradisi sepak sawut ini tetap lestari dan tidak punah ditelan zaman. Ia menginginkan agar generasi muda saat ini dan mendatang dapat terus mengenal dan melestarikan permainan tradisional ini sebagai bagian dari identitas budaya Dayak.

“Saya berharap itu tradisi atau peninggalan atau budaya dari dulu kalau bisa tetap diterapkan untuk anak-anak cucu kita nanti. Jangan sampai hilang, tetap dilestarikan,” pungkasnya dengan penuh harap. (ren/nue)