PALANGKA RAYA– Forum Komunikasi Alumni (Forka) Fakultas Hukum (FH) Universitas Palangka Raya (UPR) menggelar seminar yang bertemakan “Peran Generasi Muda Dalam Mensukseskan Pemilu Serentak Tahun 2024”. Kegiatan yang berlangsung di Aula Palangka UPR ini dihadiri ratusan mahasiswa FH UPR dan dari organisasi Cipayung HMI dan GMNI.
Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya partisipasi politik yang cerdas dan bertanggung jawab.

MENYAMPAIKAN: Ketua Forka FH UPR saat menyampaikan sambutan kepada para hadiran yang datang.
“Melalui seminar ini, kami ingin pemilih pemula dapat belajar tentang proses pemilihan, pentingnya pemahaman terhadap isu-isu kunci, dan bagaimana mengevaluasi kredibilitas dan keandalan informasi politik,” ujar Ketua Forka FH UPR Rajabuddin kepada awak media, Selasa (31/10).
Seminar dengan peserta seratusan mahasiswa ini, sambungnya untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda, khususnya mahasiswa yang menjadi pemilih pemula tidak menyalahgunakan hak pilihnya. โKami ingin generasi muda menjadi pemilih cerdas. Tidak apatis tentang politik. Apalagi tahun ini adalah tahun politik,โ katanya.
Pada seminar kali ini yang menjadi pembicara datang dari Komisioner KPU Provinsi Kalteng Wawan Wiraatmadja, Ketua Bawaslu Kalteng Satriadi, dan mantan Walikota Palangka Raya Fairid Naparin.
Begitu antusias mahasiswa Hukum UPR hadir dalam seminar kali ini. Sehingga dari seminar ini diharapkan pemilih pemula dari kalangan milenial dan Gen Z bisa cerdas saat memilih calon pemimpin dan calon anggota legislatif pada pemilu 2024 yang akan digelar pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang.
“Dengan melalui seminar ini mahasiswa bisa cerdas memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang layak nantinya,” katanya.
Seminar ini, kata dia, bisa membantu semua mahasiswasiswa saat mereka membuat keputusan informasi yang lebih baik. Serta, berkontribusi pada proses demokrasi yang sehat.
Pada kesempatan yang sama, pada kesempatan ini berpesan bahwa Generasi muda yang memiliki karakter melek teknologi, diharapkan dapat menjadi aktor dalam memfilter berita hoaks maupun ujaran kebencian kepada masyarakat.
“Pemilih Pemula memang merupakan bagian terpenting dari sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2021, jumlah Pemilih Pemula saat ini sekitar 64,90 juta jiwa atau 23,90% dari total jumlah penduduk Indonesia,” tegasnya.
Dengan jumlah Pemilih Pemula yang sangat banyak tentunya suatu negara tidak dapat terlepas dari peran Pemilih Pemula sebagai pemegang estafet penerus pembangunan suatu negara.
Menurutnya Pemilu merupakan simbol demokrasi dalam suatu negara. Fitrah demokrasi adalah memberikan ruang suara yang sebesar-besarnya bagi setiap warga negara sebagai perwujudan dari hak asasi warga negara. Partisipasi masyarakat di dalam negara demokrasi merupakan suatu indikator penting dalam menggambarkan proses demokrasi berjalan dengan baik atau tidak, dalam artian semakin rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan umum maka menandakan bahwa proses demokrasi berjalan dengan kurang baik begitupun sebaliknya. Oleh sebab itu partisipasi dari setiap kalangan khususnya Pemilih Pemula sangat diperlukan untuk mendukung terbentuknya sebuah negara demokrasi yang baik. (irj/sos/b5) Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya partisipasi politik yang cerdas dan bertanggung jawab.
“Melalui seminar ini, kami ingin pemilih pemula dapat belajar tentang proses pemilihan, pentingnya pemahaman terhadap isu-isu kunci, dan bagaimana mengevaluasi kredibilitas dan keandalan informasi politik,” ujar Ketua Forka FH UPR Rajabuddin kepada awak media, Selasa (31/10).
Seminar dengan peserta seratusan mahasiswa ini, sambungnya untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda, khususnya mahasiswa yang menjadi pemilih pemula tidak menyalahgunakan hak pilihnya. โKami ingin generasi muda menjadi pemilih cerdas. Tidak apatis tentang politik. Apalagi tahun ini adalah tahun politik,โ katanya.
Pada seminar kali ini yang menjadi pembicara datang dari Komisioner KPU Provinsi Kalteng Wawan Wiraatmadja, Ketua Bawaslu Kalteng Satriadi, dan mantan Walikota Palangka Raya Fairid Naparin.
Begitu antusias mahasiswa Hukum UPR hadir dalam seminar kali ini. Sehingga dari seminar ini diharapkan pemilih pemula dari kalangan milenial dan Gen Z bisa cerdas saat memilih calon pemimpin dan calon anggota legislatif pada pemilu 2024 yang akan digelar pada tanggal 14 Februari 2024 mendatang.
“Dengan melalui seminar ini mahasiswa bisa cerdas memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang layak nantinya,” katanya.
Seminar ini, kata dia, bisa membantu semua mahasiswasiswa saat mereka membuat keputusan informasi yang lebih baik. Serta, berkontribusi pada proses demokrasi yang sehat.
Pada kesempatan yang sama, pada kesempatan ini berpesan bahwa Generasi muda yang memiliki karakter melek teknologi, diharapkan dapat menjadi aktor dalam memfilter berita hoaks maupun ujaran kebencian kepada masyarakat.
“Pemilih Pemula memang merupakan bagian terpenting dari sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2021, jumlah Pemilih Pemula saat ini sekitar 64,90 juta jiwa atau 23,90% dari total jumlah penduduk Indonesia,” tegasnya.
Dengan jumlah Pemilih Pemula yang sangat banyak tentunya suatu negara tidak dapat terlepas dari peran Pemilih Pemula sebagai pemegang estafet penerus pembangunan suatu negara.
Menurutnya Pemilu merupakan simbol demokrasi dalam suatu negara. Fitrah demokrasi adalah memberikan ruang suara yang sebesar-besarnya bagi setiap warga negara sebagai perwujudan dari hak asasi warga negara. Partisipasi masyarakat di dalam negara demokrasi merupakan suatu indikator penting dalam menggambarkan proses demokrasi berjalan dengan baik atau tidak, dalam artian semakin rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan umum maka menandakan bahwa proses demokrasi berjalan dengan kurang baik begitupun sebaliknya. Oleh sebab itu partisipasi dari setiap kalangan khususnya Pemilih Pemula sangat diperlukan untuk mendukung terbentuknya sebuah negara demokrasi yang baik. (irj/sos/b5)

