Ditampilkan untuk Mengiringi Jenazah ke Tempat Peristirahatan Terakhir

oleh

Terpukau Babukung Layau, Babukung Tertua di Lamandau

bannerads728x90

Pernah membayangkan jelmaan hantu menari saat mengiringi peti jenazah ke tempat peristirahatan terakhir? Itulah yang berusaha digambarkan para penari dari Sanggar Riam Lampung, saat tampil pada Lomba Tari Kreasi Babukung, Jumat malam (9/8).

GILANG RAHMAWATI, Nanga Bulik

TEPUK tangan penonton memba­hana di Alun-alun Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, usai satu per satu tim peserta Lomba Tari Kreasi Babukung selesai tampil. Termasuk sanggar yang berasal dari Desa Nanuah, Kecamatan Menthobi Raya.

Sanggar ini menampilkan tari kreasi babukung layau. Babukung ini adalah yang tertua dari babukung lainnya di Bumi Bahaum Bakuba.

ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
TAMPIL MENGESANKAN: Tim penari Sanggar Riam Lampung saat membawakan tari kreasi babukung layau, Jumat malam (9/8).

Chornelius Efrin, koordinator Sanggar Riam Lampung, menyebut bahwa babukung layau ini menjadi yang terakhir, dalam arti hanya muncul saat mengiringi peti jenazah menuju tempat peristihatan terakhir. Bukan saat peti jenazah masih dalam rumah duka.

Beberapa babukung lainnya ditampilkan saat menghibur keluarga yang sedang berduka dan saat jenazah masih disemayamkan dalam rumah duka.

“Beda babukung ini dengan yang lain, yang ini (babukung layau, red) tidak memiliki mulut, telinga, dan gigi, karena luha ini bukan mempresentasikan hewan tetapi jelmaan hantu, wajah hantunya itu tidak bisa jelas dilihat manusia,” ucapnya saat diwawancarai usai penampilan spektakuler malam itu.

Harmanto sebagai penata rias berusaha mempresentasikan jelmaan hantu melalui aksesori yang digunakan. Luha atau topeng yang dipakai terlihat mancung ke depan. Pakaian para penari didominasi warna hitam dan merah.

Sandra Wahyudi sebagai koreografer sanggar mengemas epik tarian tersebut. Para penari membawa tatakup di tangan kanan dan tongkat dari pohon tebu di tangan kiri.

“Sanggar kami membawa 15 orang untuk tampil di atas panggung, 10 orang penari dan 5 lainnya pengiring musik,” ucap Chornelius yang juga merupakan penata musik.

Untuk menciptakan irama musik yang khas, mereka menggunakan alat musik gondang, tatawak, kalinang, serta karecek.

Chornelius mengatakan, tarian itu dipersiapkan kurang lebih tiga minggu. Mereka berusaha keras untuk bisa membuat tampilan memukau penonton dengan kekompakan formasi yang telah dilatih.

“Karena sanggar ini telah terbentuk, mudah-mudahan kami bisa berkesempatan tampil pada event-event lain untuk mengharumkan nama Kabupaten Lamandau,” tuturnya.

Untuk diketahui, Sanggar Riam Lampung menjadi salah satu dari dua perwakilan Menthobi Raya pada event tahunan ini. (*/ce/uni)