Dinkes Sebut Imunisasi Menjadi Langkah Efektif Mencegah Penyakit Menular
PALANGKA RAYA – Wabah campak sedang melanda sejumlah wilayah di pulau Jawa. Kalteng perlu waspada agar wabah serupa bisa dicegah, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng, kasus campak dua tahun terakhir cenderung terkendali bahkan sejumlah daerah justru mengalami penurunan (lengkap lihat di tabel).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kalteng, Riza Syahputra, menegaskan bahwa kasus campak erat kaitannya dengan cakupan imunisasi di suatu wilayah. “Logikanya, jika suatu daerah masih banyak kasus campak, kemungkinan cakupan imunisasi campaknya rendah,” ujarnya saat ditemui Kalteng Pos, Rabu (27/8).
Menurutnya, imunisasi menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyakit menular. Terdapat 29 penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) salah satunya campak. Rendahnya cakupan vaksinasi, kata Riza, membuat anak-anak rentan terserang penyakit ini. “Kasus di Sumenep, Jawa Timur, beberapa waktu lalu bisa menjadi pelajaran. Rendahnya imunisasi di sana berujung pada kematian akibat campak. Ini bukti nyata bahwa imunisasi sangat penting,” tegasnya.

IMUNISASI SERENTAK: Petugas Puskesmas Bukit Hindu melaksanakan imunisasi campak dan HPV di SD Katholik Santo Don Bosco, Rabu (27/8).
Riza menyoroti masih banyaknya orang tua yang termakan mitos soal efek samping imunisasi. Demam atau rewel setelah imunisasi sering dianggap berbahaya, padahal reaksi tersebut wajar. “Setiap benda asing yang masuk ke tubuh pasti ada reaksi. Demam setelah imunisasi adalah hal biasa dan hanya berlangsung sementara. Efek samping serius sangat kecil kemungkinannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh prosedur imunisasi sudah diantisipasi tenaga kesehatan, bahkan diawasi oleh Komisi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang bertugas menangani kemungkinan efek pasca penyuntikan vaksin. “Masyarakat perlu memahami bahwa manfaat imunisasi jauh lebih besar daripada risikonya. Lebih baik anak panas sehari, daripada berisiko terkena campak yang bisa berakibat fatal,” lanjutnya.
Selain mitos, terdapat berbagai kendala lain yang menyebabkan rendahnya cakupan imunisasi di Kalteng. Di antaranya keterbatasan waktu orang tua yang sibuk bekerja, sehingga tidak sempat membawa anak ke fasilitas kesehatan saat jadwal imunisasi. Selain itu, kurangnya dukungan keluarga, termasuk dari ayah, kakek, nenek, hingga mertua, juga berpengaruh.
“Kerap kali keluarga justru melarang anak diimunisasi karena takut panas atau rewel. Padahal itu hanya keluhan sesaat, bukan efek jangka panjang,” ujar Riza.
Faktor lain yang ikut berperan adalah keterbatasan akses pelayanan di daerah pedalaman. Meski puskesmas dan pustu tersedia di tingkat kecamatan dan desa, jarak yang jauh membuat sebagian masyarakat kesulitan menjangkau layanan imunisasi. Belum lagi adanya persepsi negatif akibat hoaks yang beredar luas, bahkan ada kelompok antivaksin yang menganggap imunisasi berbahaya atau tidak halal.
“Hoaks ini sangat merugikan. Misalnya dulu saat vaksin Covid-19, sempat ada isu bisa menyebabkan impoten. Padahal tidak ada bukti ilmiah. Hal-hal seperti ini membuat sebagian masyarakat ragu melakukan imunisasi,” jelasnya.
Untuk menekan kasus campak sekaligus meningkatkan cakupan imunisasi, Dinkes Kalteng terus menggencarkan promosi kesehatan. Selain melalui tenaga kesehatan di puskesmas, edukasi juga dilakukan lewat media sosial resmi pemerintah.
“Semakin cepat imunisasi diberikan, semakin besar perlindungan yang dimiliki anak,” katanya.
Riza menekankan bahwa pencegahan jauh lebih murah dan efektif dibandingkan pengobatan. Dengan imunisasi, anak akan terlindungi dari penyakit menular berbahaya, termasuk campak yang bisa menyebabkan komplikasi serius. “Kalau sudah ada kasus, penanganannya bisa lebih sulit. Karena itu, mencegah jauh lebih baik,” pungkasnya.
Menanggapi kasus campak ini, Dokter Spesialis Anak, dr. Made Yuliari juga turut memberikan penjelasan mengenai bahaya campak serta langkah pencegahan yang paling tepat.
Menurut dr. Made, campak merupakan penyakit infeksi yang sangat menular, disebabkan oleh virus campak. Gejala awal biasanya ditandai dengan demam, batuk, pilek, dan infeksi mata, yang kemudian disusul munculnya ruam merah dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh.
“Komplikasi campak bisa sangat serius, di antaranya radang paru-paru, diare berat hingga dehidrasi, radang otak, bahkan berujung kematian jika tidak ditangani dengan tepat,” jelasnya.
Untuk mencegah wabah meluas, vaksinasi disebut menjadi langkah paling efektif. Pemerintah, kata dr. Made, telah menyiapkan vaksin campak yang diberikan secara gratis di berbagai pusat layanan kesehatan.
“Vaksin memberikan kekebalan tubuh terhadap virus campak. Jadi, imunisasi bukan hanya melindungi anak sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya agar tidak tertular,” tegasnya.
Sayangnya, masih banyak hoaks yang beredar di masyarakat, salah satunya klaim bahwa vaksin campak menyebabkan autisme atau menimbulkan efek samping berat.
“Ini informasi yang salah. Vaksin campak tidak menyebabkan autisme. Efek samping yang muncul biasanya hanya ringan, misalnya demam atau ruam beberapa hari setelah penyuntikan. Itu pun akan hilang dengan sendirinya,” tegas dr. Made.
Ia menambahkan, publikasi ilmiah yang dulu sempat mengaitkan vaksin dengan autisme sudah dicabut karena tidak terbukti secara medis. Untuk meluruskan misinformasi, perlu kerja sama lintas sektor agar masyarakat lebih percaya dan tidak ragu melengkapi imunisasi anaknya.
Dokter Made juga mengingatkan orang tua di Kalimantan Tengah agar tidak menunda pemberian imunisasi. “Jangan ragu untuk membawa anak ke posyandu, puskesmas, atau dokter. Dengan imunisasi, anak-anak akan terlindungi dari penyakit menular berbahaya yang bisa mengancam nyawa,” ujarnya.
Apabila ada anak yang sudah terlanjur terinfeksi campak, orang tua tetap bisa melakukan langkah awal sebelum membawa ke fasilitas kesehatan.
“Segera berikan obat penurun panas, pastikan anak banyak minum, makan makanan bergizi, dan beristirahat cukup agar daya tahan tubuh tetap terjaga. Namun, yang terpenting adalah segera bawa ke puskesmas atau dokter terdekat agar mendapat penanganan medis, terutama bila muncul tanda komplikasi,” tuturnya.
Wabah campak yang kembali mencuat ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak menyepelekan imunisasi. Pemerintah telah menyediakan vaksin secara gratis, sehingga alasan untuk menunda seharusnya tidak ada lagi. “Campak bukan penyakit ringan. Dengan vaksinasi, kita bisa mencegah anak-anak menjadi korban berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Puskesmas Bukit Hindu menggelar kegiatan imunisasi campak dan HPV di Sekolah Dasar (SD) Katholik Santo Don Bosco. Program kesehatan ini diikuti seluruh siswa kelas I dan kelas V dengan tujuan mencegah penyakit menular sejak dini.
Guru Bidang Studi PJOK SD Santo Don Bosco, Fitri, mengatakan imunisasi campak diberikan kepada seluruh siswa kelas I yang terdiri dari lima kelas. Menurutnya, sebelum pelaksanaan vaksin, pihak sekolah bersama puskesmas sudah menyampaikan surat persetujuan kepada orang tua murid.
“Untuk kelas satu dan lima ini mereka mendapat vaksin BIAS MR atau Campak Rubella. Semua murid yang divaksin sudah melalui screening dan persetujuan orang tua terlebih dahulu,” ujar Fitri, Rabu (27/8).
Ia menambahkan, kegiatan imunisasi di sekolah tersebut sudah menjadi agenda rutin tahunan yang selalu dilaksanakan bersama Puskesmas Bukit Hindu. “Memang tiap tahun sekolah selalu ada vaksin untuk anak, baik pencegahan campak maupun HPV,” ucapnya.
Meski mayoritas siswa mengikuti program ini, Fitri menyebut ada sebagian kecil orang tua yang tidak mengikutsertakan anaknya dengan alasan sakit, penundaan, hingga faktor lain. “Namun jumlahnya tidak banyak, kebanyakan tetap ikut serta,” jelasnya.
Selain imunisasi campak, vaksin HPV (Human Papilloma Virus) juga diberikan kepada siswi kelas V. Totalnya ada lima kelas yang mengikuti. Saat proses vaksinasi berlangsung, suasana dipenuhi beragam ekspresi siswa, mulai dari takut, gugup, tertawa, hingga tangis keras yang terdengar dari beberapa anak.
Salah satu siswi kelas V, Clara Nathania Gultom, mengaku sempat diliputi rasa takut sebelum disuntik.
“Takut sama jarum suntiknya, takut sakit, jadi minta ditemani ibu guru. Tapi itu juga tetap gak berani,” ungkapnya sambil mengusap air mata.
Program imunisasi ini diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan anak sejak usia sekolah, serta membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit menular berbahaya. (zia/*afa/ala)
DATA KASUS SUSPEK CAMPAK DI KALTENG
DAERAH 2024 2025
Barito Selatan 10 3
Barito Timur 1 2
Barito Utara 26 19
Gunung Mas 11 8
Kapuas 19 19
Katingan 30 12
Kotawaringin Barat 45 24
Kotawaringin Timur 337 32
Lamandau 7 6
Murung Raya 25 1
Pulang Pisau 2 2
Seruyan 15 12
Sukamara 10 3
Palangka Raya 112 32
TOTAL KASUS 650 175
KETERANGAN: Tahun 2025 Data dari Minggu 1 hingga Minggu 34
SUMBER: DINAS KESEHATAN KALTENG

