Syukur

oleh

HARUS diakui, tidak mudah memang untuk bersyukur. Bahkan pernyataan bahwa manusia adalah makhluk yang sulit bersyukur merupakan sumpah Iblis saat ia diusir dari surga.

bannerads728x90

Di Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 17, Iblis secara gamblang menyatakan target utamanya adalah membuat manusia tidak pandai berterima kasih kepada Tuhannya: “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

Rasanya saat kita tergolong orang yang tidak bersyukur, seakan kita sedang masuk jebakan Iblis. Terlebih jika ukurannya itu adalah rezeki yang sering kita tafsirkan sebagai uang. Rasanya cukup sulit bersyukur saat kondisi keuangan kita sedang tidak baik-baik saja. Yang ada sebaliknya, malah justru mempertanyakan rahmat Allah yang Maha luas.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak, berzikir mengingat Allah dan memperbaiki cara kita bersyukur.

Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya, diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad & At-Tirmidzi) Dari hadis ini kita belajar, ternyata bahagia itu sederhana. Memiliki rasa aman, diberikan kesehatan dan cukup makanan untuk hari ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun, hal ini akan sirna dengan ekspektasi kita yang begitu luar biasa terhadap hidup ini.

Belum lagi dengan standardisasi dari rasa syukur itu. Seolah-olah, syukur itu menunggu punya mobil, nunggu punya uang banyak, nunggu punya amas ratusan gram, nunggu pekerjaan dengan gajih yang tinggi, dan menunggu banyak hal tentang Dunia ini.

Bahkan, saat kita bisa bersujud melaksanakan salat lima waktu secara rutin di masjid, kemudian mendapati ekonomi kita tidak baik-baik saja, rasa syukur pun juga hilang. Seakan kita sudah melakukan kewajiban kita sebagai hamba dan selayaknya kita juga mendapatkan imbalan rezeki yang melimpah. Padahal, rezeki yang luar biasa sudah kita dapatkan secara instan, yakni bisa sujud kepada Allah.

Bisa salat itu nikmat. Kenapa? Karena banyak di antara saudara-saudara kita yang terhalangi untuk melakukan ketaatan. Dan jangan lupa, Allah pun mengingatkan kita dalam firman-Nya di Surah Ibrahim ayat 7.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim ayat) Bismillah semoga kita bisa istikamah menjadi manusia yang bersyukur. (*)