DUNIA perfilman Indonesia kehilangan salah satu aktor terbaiknya, Farence Raymond Sahetapy atau yang lebih dikenal sebagai Ray Sahetapy. Aktor yang dikenal dengan kemampuan aktingnya yang luar biasa ini meninggal dunia pada Selasa, 1 April 2025 di usia 68 tahun. Namun, warisannya di industri hiburan akan terus dikenang.
Ray Sahetapy memulai debutnya di dunia film pada tahun 1980 dengan membintangi βGadis,β sebuah film arahan Nyaβ Abbas Akup. Dalam film ini, ia dipertemukan dengan Dewi Yull, yang kemudian menjadi istrinya. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal dan dihormati di industri perfilman.
Dikenal dengan peran-perannya yang penuh emosi dan karakter yang mendalam, Ray tampil dalam banyak film ikonik seperti Ponirah Terpidana (1983), Tatkala Mimpi Berakhir (1987), dan Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990).

Saat industri film Indonesia mengalami mati suri, Ray tak menyerah. Ia membangun sanggar teater dan membentuk komunitas seni di pinggiran kota. Lewat sanggar ini, ia bahkan sempat menggemparkan publik dengan gagasannya untuk mengubah nama Republik Indonesia menjadi Republik Nusantara.
Ray menikah dengan Dewi Yull pada 16 Juni 1981, meski awalnya tanpa restu dari keluarga karena perbedaan agama. Namun, demi keluarganya, Ray akhirnya menjadi mualaf pada 1992.
Pernikahan mereka bertahan lebih dari dua dekade dan dikaruniai empat anak. Sayangnya, pernikahan itu berakhir pada 2004 setelah Dewi Yull menggugat cerai karena Ray berencana menikah lagi.
Tak lama setelah perceraian, Ray menikahi Sri Respatini Kusumastuti, seorang pengusaha dan akademisi di bidang seni pertunjukan.
Ray Sahetapy bukan hanya seorang aktor, tetapi juga seorang mentor bagi banyak generasi muda di dunia seni peran. Kembalinya ke dunia film pada 2006 lewat Dunia Mereka menunjukkan dedikasinya yang tak tergoyahkan. Bahkan, dalam Kongres PARFI tahun yang sama, ia dipercaya menjadi salah satu ketua organisasi tersebut.
Kini, Ray Sahetapy telah tiada, tetapi namanya tetap hidup dalam hati para penggemarnya dan dalam sejarah perfilman Indonesia. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia seni, tetapi karyanya akan selalu menginspirasi.(jpc)

