Pertarungan Gagasan Delapan Kandidat Rektor UPR

oleh

Pemilihan Rektor UPR Periode 2026-2030

bannerads728x90

PALANGKA RAYA–Panitia Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) memastikan tidak ada perpanjangan masa pendaftaran bakal calon rektor periode 2026-2030 setelah jumlah pendaftar mencapai delapan orang hingga hari terakhir pendaftaran, Selasa (26/5).

Ketua Panitia Pemilihan Rektor UPR, Prof Joni Bungai mengatakan seluruh tahapan selanjutnya akan dilanjutkan ke proses pemeriksaan administrasi dan verifikasi dokumen oleh panitia. “Dijadwalkan berlangsung pada 2 Juni,” ucap Prof Joni Bungai.

Adapun delapan bakal calon rektor yang telah resmi mendaftar berasal dari berbagai fakultas di lingkungan UPR (Baca di Tabel). Kandidat rektor, Prof Uras Tantulo menilai UPR harus berani melakukan lompatan besar agar tidak tertinggal dari perguruan tinggi lain di Indonesia maupun tingkat internasional.

“Kalau kita berjalan biasa-biasa saja, kita akan tertinggal. UPR harus melompat dari universitas kelas biasa menjadi universitas unggul yang berdampak,” katanya Senin (25/5). Pendaftar berikutnya adalah Prof Bhayu Rhama. Ia berharap proses pemilihan rektor tahun ini dapat berjalan kompetitif Bhayu. “Kita ingin memperlihatkan kepada masyarakat Kalteng bahwa sumber daya manusia di UPR memiliki kualitas yang baik dan cukup banyak untuk memenuhi syarat sebagai rektor,” katanya.

Ia mengaku telah menyiapkan sejumlah gagasan strategis untuk meningkatkan kualitas dan daya saing UPR. Ia menilai UPR memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi perguruan tinggi yang lebih kompetitif, baik di tingkat nasional maupun global, melalui penguatan kualitas akademik, riset, dan kontribusi nyata bagi masyarakat Kalteng.

Berikutnya Dr Tari Budayanti Usop, dia ingin untuk berkontribusi membangun UPR agar semakin berkembang dan mampu menjadi pusat pengetahuan ekologi berkelanjutan.

“Siap mengabdi dan berkarya serta memiliki jiwa dan semangat berintegritas,” katanya. Pendaftar berikutnya Prof Liswara Neneng. Ia mengaku optimistis mampu bersaing dengan kandidat lain dalam kontestasi pemilihan rektor. “Saya percaya apa yang kami persiapkan mempunyai nilai kompetitif tersendiri dan mampu bersaing dengan calon-calon lainnya,” katanya.

Ia juga menyiapkan empat program unggulan yang akan menjadi fokus pengembangan kampus apabila terpilih memimpin UPR.

Kandidat selanjutnya Dr Deddy NSP Tanggara, ia menegaskan keikutsertaannya dalam pemilihan rektor bukan sekadar soal menang atau kalah, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk mendorong kemajuan kampus.

“Bagi saya maju di pilrek ini bukan soal menang atau kalahnya, tapi tentang kesadaran bahwa UPR memiliki cukup alternatif pilihan calon pemimpin yang lahir dari rahim internalnya,” ujarnya kepada kalteng Pos, Selasa (26/5).

Pendaftar berikutnya Natalina Asi MA. Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan tantangan di lapangan agar lulusan memiliki kesiapan menghadapi dunia kerja.

“Tidak hanya pimpinan, tidak hanya dosen saja, tetapi juga tenaga kependidikan harus memahami bahwa kita mesti berkontribusi dan berkolaborasi membangun UPR ke arah yang lebih baik,” katanya. Kandidat berikutnya Dr Thea Farina. Dia membawa semangat kampus inklusif dan berdampak. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan muda maupun penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk memimpin perguruan tinggi.

“UPR ini luas dan saya ingin membuktikan bahwa disabilitas seperti saya atau orang muda seperti saya itu bisa maju,” katanya.

Sementara itu pendaftar berikutnya Dr dr Natalia Sri Martani mengatakan pencalonannya dilatarbelakangi keinginan untuk ikut berkontribusi dalam kontestasi pemilihan rektor sekaligus membawa keterwakilan Fakultas Kedokteran dalam Pilrek UPR.

“Yang penting kami ikut menyukseskan kontestasi atau pemilihan rektor Universitas Palangka Raya periode 2026–2030 ini,” ujarnya usai menyerahkan berkas pendaftaran. (rif/ala)