
PUBLIK belakangan ini ramai membicarakan rilis nilai rerata Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA, SMK, MA, dan Paket C Tahun 2025 yang dimuat di berbagai media. Sejumlah mata pelajaran khususnya matematika, sains, dan bahasa asing, menunjukkan rerata nilai yang rendah, sementara beberapa mata pelajaran sosial dan Bahasa Indonesia justru relatif lebih tinggi. Reaksi pun beragam, mulai dari kekhawatiran hingga kesimpulan bahwa mutu pendidikan sedang menurun.
Namun dalam dunia pendidikan, angka pada data statistik tentunya tidak dibaca secara reaktif. Angka harus dibaca dengan konteks, tujuan asesmen, karakter pembelajarannya, pola pendagogi yang selama ini diterapkan di sekolah, dan cara belajar yang melatarbelakanginya. Tanpa itu, kita berisiko bisa salah memahami persoalan.
TKA Bukan Sekadar Ujian, Melainkan Alat Diagnosis Hal pertama yang perlu kita pahami adalah bahwa TKA bukan ujian hafalan seperti yang kita kenal di masa lalu. TKA dirancang untuk mengukur kemampuan akademik inti, tetapi dengan pendekatan yang lebih menekankan pemahaman, penalaran, dan kemampuan membaca persoalan.
Soal-soal TKA umumnya berbentuk narasi. Peserta didik diminta membaca situasi, memilah informasi yang relevan, memahami apa yang ditanyakan, lalu menggunakan pengetahuan akademiknya sebagai alat berpikir. Dengan kata lain, TKA tidak hanya menguji “apa yang diketahui siswa”, tetapi “bagaimana siswa menggunakan pengetahuan itu”.
Karena itu, hasil TKA sesungguhnya lebih tepat dibaca sebagai cermin proses pembelajaran, bukan semata-mata ukuran kecerdasan siswa.
Pola Nilai yang Konsisten, Bukan Kebetulan Jika dicermati, hasil TKA 2025 memperlihatkan pola yang sangat konsisten. Mata pelajaran seperti Antropologi, Geografi, Sejarah, Sosiologi, PPKn, dan Bahasa Indonesia menunjukkan nilai rerata yang relatif lebih baik. Mata pelajaran ini memiliki satu kesamaan penting yaitu pembelajarannya berbasis narasi, wacana, dan konteks.
Sebaliknya, mata pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia, Ekonomi, serta Bahasa Inggris menunjukkan nilai yang lebih rendah. Selama ini, banyak dari mata pelajaran tersebut diajarkan dengan pendekatan prosedural dan simbolik yang fokus pada rumus, langkah-langkah baku, dan latihan berulang.
Ketika pendekatan pembelajaran seperti ini dihadapkan pada asesmen yang menuntut membaca konteks dan menalar masalah, terjadilah ketidaksesuaian. Inilah yang tercermin dalam hasil TKA.
Artinya, yang sedang diuji bukan hanya siswa, tetapi juga pendekatan pembelajarannya.
Matematika Rendah, Apakah Numerasi Lemah? Salah satu respons yang paling sering muncul adalah kekhawatiran terhadap rendahnya nilai matematika. Namun kesimpulan bahwa numerasi siswa rendah perlu dicermati lebih lanjut. Banyak siswa sebenarnya mampu menghitung dan memahami konsep dasar matematika, tetapi belum terbiasa menghadapi soal yang panjang, kontekstual, dan tidak secara eksplisit menyebutkan rumus yang harus digunakan.
Dalam TKA, siswa harus menentukan sendiri : – informasi mana yang relevan, – pendekatan apa yang tepat, – dan apakah hasil yang diperoleh masuk akal.
Ini adalah lompatan cara berpikir dari matematika prosedural ke numerasi kontekstual. Lompatan ini tidak akan berhasil jika pembelajaran belum menyiapkan jembatan yang memadai.
Bahasa Inggris dan Literasi Membaca Nilai Bahasa Inggris wajib yang rendah juga sering dipersepsikan sebagai lemahnya kemampuan bahasa asing. Padahal, jika dibaca lebih dalam, persoalannya lebih luas yaitu literasi membaca akademik.
Baik TKA maupun asesmen internasional seperti PISA sangat bergantung pada kemampuan memahami teks panjang, instruksi kompleks, dan informasi implisit. Ketika kemampuan membaca belum kuat, maka hampir semua mata pelajaran yang berbasis teks, terutama dalam bahasa asing, akan terdampak.
Ini menjelaskan mengapa Bahasa Indonesia relatif lebih baik, sementara Bahasa Inggris tertinggal. Sekali lagi, ini bukan soal potensi anak, melainkan soal kebiasaan literasi yang belum sepenuhnya terbangun.
TKA, PISA, dan Dunia yang Sedang Berubah Penting juga bagi kita memahami bahwa arah TKA sejalan dengan Programme for International Student Assessment (PISA). Keduanya menempatkan literasi dan numerasi sebagai alat memahami dunia, bukan sekadar keterampilan akademik.
Perbedaannya, PISA berfungsi sebagai cermin eksternal kesiapan hidup peserta didik di dunia nyata berbasis data dan risiko. TKA berfungsi sebagai alat internal untuk memastikan fondasi akademik menuju cara berpikir tersebut. Dengan demikian, TKA adalah jembatan menuju numerasi dan literasi kehidupan nyata yang diuji PISA. Ia memastikan fondasi akademik tetap ada, sambil perlahan menggeser cara berpikir siswa dari “mengerjakan soal” menuju “memahami persoalan”.
Jika hasil TKA menunjukkan tantangan, maka itu adalah sinyal bahwa jembatan ini perlu diperkuat dari sisi pembelajaran.
Apa yang Sesungguhnya Diminta oleh Data TKA? Hasil TKA 2025 sedang menyampaikan pesan yang jelas bahwa pendidikan perlu lebih serius menguatkan literasi membaca, penalaran numerik, dan pembelajaran berbasis konteks di semua mata pelajaran.
Hal ini berarti: – guru perlu melatih siswa membaca dan menafsirkan soal, – pembelajaran eksakta perlu lebih banyak mengaitkan konsep dengan situasi nyata, – diskusi makna dan alasan perlu lebih diutamakan daripada sekadar jawaban akhir.
Perubahan ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mengajar.
Hasil TKA tidak seharusnya dibaca sebagai kegagalan, melainkan sebagai peta jalan perbaikan. Ia membantu kita melihat bagian mana dari pembelajaran yang sudah sejalan dengan tuntutan zaman, dan bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Jika kita mampu membaca hasil TKA dengan jernih, maka asesmen ini akan menjalankan fungsi sejatinya yaitu mendorong pendidikan yang tidak hanya meluluskan siswa, tetapi menyiapkan mereka untuk berpikir, menalar, dan hidup di dunia yang semakin kompleks.
Di situlah sesungguhnya nilai penting TKA, bukan pada angka yang tercetak, tetapi pada kesadaran yang dibangkitkannya. (*)

