“Kadang Kalau Nyanyi Aku Ingat Papa”

oleh

Mengenal Grecilia Natalsya, Finalis Nasional Pesparawi 2026

bannerads728x90

Dari ruang kelas sederhana hingga panggung nasional, Grecilia Natalsya membuktikan bahwa mimpi besar bisa lahir dari ketekunan dan dukungan yang tulus. Di usianya yang masih belia, murid kelas enam SDN 5 Menteng ini tidak hanya mencuri perhatian lewat suara merdunya, tetapi juga melalui kisah perjuangan yang menyentuh, tentang kehilangan, harapan, dan langkah pasti menuju masa depan.

DHEA UMILATI, Palangka Raya

SEJAK usia tiga tahun, Grecilia sudah akrab dengan dunia tarik suara. “Aku sudah suka nyanyi dari kecil, sering nyanyi sendiri di rumah,” ujarnya polos saat berbincang dengan Kalteng Pos, Senin (13/4). Namun, langkah seriusnya dimulai saat duduk di kelas tiga SD, ketika ia mulai mengikuti berbagai perlombaan, termasuk ajang pertamanya di Lippo Plaza Palangka Raya.

BERPRESTASI: Grecilia Natalsya memperlihatkan tropi dan piagam penghargaan yang didapatkannya dari berbagai ajang menyanyi hingga tingkat nasional.

Sejak saat itu, hari-hari Grecilia diisi dengan latihan dan panggung. Dukungan dari sang ibu menjadi kekuatan utama yang tak tergantikan.

Di tengah keterbatasan, ibunya tetap berupaya menghadirkan pelatih vokal ke rumah agar kemampuan anaknya terus berkembang. “Mama selalu dukung aku. Kalau mau lomba, latihannya bisa tiga sampai empat kali seminggu,” katanya.

Kerja keras itu pun membuahkan hasil. Grecilia berhasil meraih Juara 1 FLS2N tingkat kota dan provinsi, serta Juara Pesparawi di tingkat kota dan provinsi. Kini, ia melangkah lebih jauh sebagai finalis nasional Pesparawi yang akan digelar di Manokwari, Papua pada Juni 2026. “Aku senang banget bisa sampai nasional. Ini pengalaman besar buat aku,” ungkapnya antusias.

Namun, di balik prestasi tersebut, tersimpan kisah yang menguatkan karakter Grecilia. Ia tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah yang telah meninggal dunia sejak ia masih bayi. Rasa rindu yang tak pernah tersampaikan itu justru menjadi kekuatan emosional saat ia bernyanyi. “Kadang kalau nyanyi aku ingat papa,” katanya.

Dalam bermusik, anak berusia 12 tahun itu memiliki sosok panutan yang menginspirasi. Ia mengidolakan penyanyi muda berbakat, Lyodra. “Aku suka Lyodra karena suaranya bagus banget dan cara nyanyinya penuh perasaan. Aku mau seperti dia,” ungkapnya. Tidak heran, ia kerap membawakan lagu-lagu rohani dan pop dengan penghayatan yang kuat.

Grecilia terus ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ia bercita-cita menjadi dokter sekaligus penyanyi profesional. “Aku ingin jadi dokter, tapi juga tetap nyanyi,” katanya mantap.

Di sekolah, Grecilia dikenal sebagai sosok yang mampu menyeimbangkan antara bakat dan kewajiban akademik. Wali Kelas 6 SDN 5 Menteng, Kihirmansyah, menyebut Grecilia sebagai siswa yang konsisten dan disiplin. “Dia bisa membagi waktu dengan baik. Walaupun sering ikut lomba, pelajarannya tetap diikuti dengan baik,” ujarnya.

Secara akademik, Grecilia berada di tingkat menengah, namun stabil dan tidak pernah tertinggal. Pihak sekolah pun memberikan dukungan penuh terhadap bakatnya, termasuk memberikan dispensasi saat ia harus mengikuti perlombaan atau tampil di berbagai acara. “Kami beri prioritas supaya dia bisa berkembang tanpa meninggalkan sekolah,” tambahnya.

Di balik semua itu, peran sang ibu kembali menjadi sorotan. Meski memiliki keterbatasan sebagai seorang pegawai negeri dan kondisi fisik yang tidak selalu memungkinkan untuk mobilitas tinggi, ia tetap setia mendampingi anaknya. “Saat lomba atau acara besar, mamanya selalu hadir. Itu luar biasa,” katanya.

Dukungan tersebut juga diperkuat oleh lingkungan sekolah yang secara aktif membina potensi siswa. Kepala SDN 5 Menteng Palangka Raya, Sri Muliati, menjelaskan bahwa sekolah memiliki program rutin setiap pagi untuk menggali bakat anak sejak dini.

Sekolah menanamkan kecintaan terhadap budaya melalui kegiatan Kamis Cinta Budaya yang menghadirkan seni karungut dan tarian daerah, baik lokal maupun dari daerah lain. Lingkungan ini menjadi ruang tumbuh yang mendukung perjalanan Grecilia hingga mampu bersaing di tingkat nasional.

Sri Muliati berharap, bakat yang telah diasah sejak dini tidak terhenti di jenjang sekolah dasar. “Kami ingin ketika mereka lanjut ke tingkat lebih tinggi, kemampuannya tetap dikembangkan dan tidak terputus,” pungkasnya. (*/ala)