Jadi Pendiam

oleh

DARI dalam pesawat, saya pertama kali merangkai tulisan ini. Besi terbang itu membelah langit menuju Jeddah, Arab Saudi. Jaraknya, 7.992 kilometer dari Jakarta. Saya tahu itu setelah lihat peta di layar tempat duduk.

bannerads728x90
Oleh; Agus Pramono

Kapten Teuku Edward, dan Kopilot Adriansyah berada di balik kemudi. Nama itu diketik oleh jari-jari lentik milik pramugari. Saya sengaja meminta Lita, nama panggilan pramugari itu mengetik di catatan yang saya siapkan. Biar tak salah ketik.

Saya begitu deg-degan sepanjang jalan. Diniatkan dari hati tidak slengean atau ceplas-ceplos. Saya melakukan itu. Dan itu jauh dari kebiasaan saya.

Di dalam pesawat, teman ngobrol, saya diam. Pramugari ngomong, saya diam. Pramugari ngajak ngomong, tidak saya hiraukan. Eitss, ternyata, kata teman saya, sepanjang jalan, saya tidak diam. Tapi, sedikit ngorok.

Sekitar pukul 22.30 waktu Arab Saudi, pesawat Boeing itu mendarat. Melangkah di pelataran bandara dengan niat yang sama. Tidak ceplas-ceplos.

Dua jam menunggu di bandara Jeddah. Udara tengah malam itu mencapai 35 derajat. Sambil menunggu bagasi, saya dan beberapa rekan berdiri di dekat pintu bus. Ngobrol.

Sampai akhirnya, ada yang menceletuk. Ngobrolin soal pemilihan gubernur Kalimantan Tengah. Satu kepala punya pilihan berbeda. Ada yang ingin Koyem jadi gubernur. Ada yang enggak begitu kenal dengan Abdul Razak. Ada juga yang menginginkan Agustiar Sabran.

Nama terakhir banyak yang mendukung. Dianggap baik dan suka memberi. Mirip dengan sosok gubernur saat ini, Sugianto Sabran. Saya enggak berkomentar banyak. cuma angguk-angguk.

Pemilihan gubernur akhir-akhir ini memang mulai bikin tegang. Koyem-Sigit sudah mendapat dukungan penuh dari Partai Demokrat dan PDI Perjuangan. Abdul Razak diusung Partai Golkar. Agustiar Sabran-Edy Pratowo didukung Partai Gerindra.

Agustiar-Edy masih belum bisa tidur nyenyak. Partai Gerindra saat ini memiliki enam kursi. Perlu koalisi dengan partai lain untuk memenuhi minimal dukungan kursi. Masih ada beberapa partai yang belum menentukan arah. Partai NasDem, dan PKB.

Ketua DPW PKB Kalteng, Habib Ismail, menunggu isyarat langit. Saya enggak tahu. Apa maksud dari isyarat langit yang dimaksud oleh habib. Apakah tiba-tiba ada datang awan mendung yang membentuk wajah salah satu bakal calon? Atau tiba-tiba ada pramugari yang menulis nama bakal calon saat disodori kertas putih sama habib? Saya tidak akan menjawab. Saya juga tidak akan curiga isyarat langit itu yang dimaksud adalah menunggu yang itu. Saya akan mencoba jadi pendiam.

Di dalam bus yang membawa saya ke kota Madinah, saya lebih mencoba mendengarkan tausiyah dari ustaz Ramli Hasan Lubis. Menghayati salawat dan doa-doa yang dilantunkan. Saking semangatnya penghuni bus mendengarkan, muthawif kelahiran Mandailing Natal, Sumatra Utara itu sampai menambah doa di sela-sela tausiyahnya. Doa itu membuat saya terhanyut. Begini bunyinya; Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut. (*)

*) Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kalteng Pos