Semarak Perayaan HUT Pemko Palangka Raya
Suara tangisan bercampur tawa memenuhi Aula Palampang Tarung saat kegiatan sunatan massal gratis digelar dalam rangka Hari Jadi Pemerintah Kota Palangka Raya. Di balik teriakan anak-anak yang takut jarum suntik, tersimpan kisah keberanian, keringanan beban ekonomi keluarga, serta kepedulian pemerintah kepada masyarakat kurang mampu.
FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya
SUNATAN massal gratis yang digelar Dinas Sosial Kota Palangka Raya itu menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Pemerintah Kota Palangka Raya. Sejak pagi, peserta bersama keluarga berdatangan memenuhi aula untuk mengikuti proses khitan yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah.
Di tengah kesibukan tersebut, Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, turut hadir meninjau langsung jalannya kegiatan. Ia menyapa peserta dan keluarga serta memastikan seluruh proses berjalan lancar pada Rabu (17/6).

Fairid mengatakan, kegiatan sunatan massal telah beberapa kali dilaksanakan dan selalu mendapat respons positif dari masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai perangkat daerah dan tenaga kesehatan yang terlibat.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar. Untuk kesekian kalinya sunatan massal ini bisa terselenggara berkat kolaborasi antar dinas terkait,” ujarnya. Di antara ratusan peserta yang saat itu hadir ada satu pemandangan yang sempat mencuri perhatian.
Dari kejauhan terdengar suara tangisan dan teriakan seorang anak yang menggema hampir ke seluruh ruangan. Banyak orang mengira proses khitan yang dijalaninya terasa sangat sakit.
Namun setelah mendekat, Fairid melihat kondisi sebenarnya berbeda. Menurutnya, anak tersebut lebih banyak dipengaruhi rasa takut dan kecemasan dibanding rasa sakit akibat tindakan medis.
“Obat biusnya sudah bekerja, tapi sugesti ketakutannya lebih besar. Jadi nangis dan teriak-teriak sampai harus ditahan beberapa orang, termasuk orang tua dan petugas,” katanya.
Meski demikian, suasana berbeda terlihat pada peserta lainnya. Banyak anak tampak tenang menunggu giliran. Bahkan beberapa di antaranya tetap asyik bermain game di telepon genggam saat proses khitan berlangsung.
Salah satunya adalah Rizal, peserta berusia 10 tahun yang mengikuti sunatan massal ditemani ayah, adik perempuan dan ibunya, Aina. Sebelum masuk ruang tindakan, ia mengaku sempat merasa gugup.
“Ada, gugup,” ucapnya singkat saat ditanya perasaannya menjelang sunat.
Namun rasa khawatir itu perlahan menghilang setelah proses pembiusan dilakukan. Rizal mengaku hampir tidak merasakan sakit selama tindakan berlangsung. “Tidak terlalu terasa karena dibius,” katanya. Menurut Rizal, setelah suntikan anestesi diberikan, rasa nyeri yang ia bayangkan sebelumnya tidak lagi muncul. “Tidak terasa apa-apa lagi,” tuturnya.
Selama proses berlangsung sekitar 15 menit, Rizal bahkan menghabiskan waktu dengan bermain handphone. Aktivitas sederhana itu membuatnya lebih rileks dan tidak terlalu memikirkan tindakan yang sedang dijalani.
Bagi sang ibu, mengikuti program sunatan massal merupakan kesempatan yang sangat membantu. Awalnya ia mengetahui informasi kegiatan tersebut dari ajakan yang diterimanya. Meski begitu, keputusan untuk disunat datang dari anaknya sendiri.
Aina mengaku senang karena program tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat. “Senang, karena tidak perlu mengeluarkan biaya. Tinggal datang dan mengikuti kegiatan sunatan massal ini,” ujarnya.
Kisah serupa datang dari Sri, orang tua peserta bernama Rafa. Saat proses sunat berlangsung, Rafa sempat menangis. Namun tangisan itu bukan karena tindakan khitan, melainkan rasa takut terhadap jarum suntik. Meski saat diwawancara Kalteng Pos, Rafa tampak menyembunyikan wajahnya di balik tubuh ibunya, air mata yang membasahi wajahnya hingga tampak kemerahan pada area mata terlihat jelas. “Nangis, takut jarum suntik,” kata Sri.
Menurutnya, keinginan untuk mengikuti sunat justru muncul dari Rafa sendiri. Sang anak sudah lama ingin disunat, meskipun masih memiliki ketakutan terhadap proses penyuntikan. “Iya, anaknya sendiri yang pengen. Tapi takut jarum suntik,” tuturnya. (*/ala)

