Kisah Kameliati, Penerima Penghargaan dari Mantan Presiden RI sebagai Promotor Obat Tradisional Khas Dayak
Kameliati, seorang pelaku industri kecil menengah (IKM) yang telah berusia paruh baya, berasal dari Kota Palangka Raya. Dengan tekad yang tak tergoyahkan, ia terus berinovasi demi melestarikan dan memperkenalkan ramuan tradisional khas Dayak, sebuah warisan leluhur yang kaya makna. Inovasi itu telah mengantarkannya meraih berbagai penghargaan di tingkat provinsi maupun nasional.
BIMA ADITYA KUSUMA, Palangka Raya
DI tengah derasnya arus modernisasi, pelaku IKM menghadapi tantangan besar. Terutama dalam hal inovasi produk. Namun, seorang perempuan Dayak yang tumbuh besar di tanah Kalimantan, Kameliati, berhasil mengubah tantangan itu menjadi peluang. Ia menciptakan inovasi berupa teh herbal dari ramuan tradisional khas Dayak Kalimantan Tengah. Dengan tangan teÂrampil dan pengetahuan mendalam tentang tanaman obat, ia menghasilkan produk yang tak hanya menyehatkan, tetapi juga menyimpan nilai budaya Dayak yang mendalam.
Sejak kecil, Kameliati telah diajarkan oleh orang tuanya tentang manfaat beragam tanaman hutan.

RAMUAN TRADISIONAL: Kameliati memperlihatkan produk unggulannya di selasar bawah Ruang Peteng Karuhei II, Sekretariat Daerah Kota Palangka Raya, Jumat (13/12).
Kini, ia memusatkan energinya untuk mengembangkan produk ramuan herbal melalui usaha kecil bernama M-4 Bersaudara. Dari rumahnya di Jalan Bengaris I, ia memproduksi berbagai ramuan tradisional, seperti jamu, minyak gosok, hingga teh herbal, yang semuanya berbahan dasar alami dari kekayaan alam Kalimantan Tengah.
“Ramuan tradisional Dayak telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kami selama bertahun-tahun. Lewat inovasi ini, saya ingin membuat produk ini lebih mudah diakses oleh semua kalangan, bukan hanya untuk orang tua,” ungkap Kameliati penuh antusias.
Wanita kelahiran tahun 1971 ini memulai perjalanan usahanya pada tahun 2000 dengan menjual akar bajakah secara langsung tanpa pengolahan. Namun, seiring berjalannya waktu dan adanya tuntutan modernisasi, ia mulai berinovasi dengan mengolah akar bajakah menjadi teh herbal yang praktis dan mudah digunakan.
“Saya membuat inovasi ini karena mendengar kebutuhan konsumen yang ingin mengonsumsi akar bajakah dan tanaman herbal lain dengan cara yang lebih sederhana. Dari situ, saya berinisiatif untuk mengubahnya menjadi teh herbal siap seduh,” jelasnya.
Sejauh ini Kameliati telah memproduksi lebih dari sepuluh varian inovasi tanaman herbal. Produk unggulannya mencakup Teh 41 Macam, Teh Bawang Dayak, Teh Bajakah Tunggal dan Bahenda, Teh Kencing Manis, Teh Daun Songkai, Minyak Urut Dayak, dan lain-lain.
“Tiap produk memiliki manfaat luar biasa bagi tubuh, mulai dari melindungi jantung, menurunkan gula darah, hingga sebagai antioksidan. Bahkan, teh herbal ini dapat membantu menyembuhkan penyakit seperti kencing manis, tumor, dan lain-lain,” bebernya.
Dalam sebulan, Kameliati mampu meraup pendapatan antara 20 hingga 35 juta rupiah dari penjualan produk. Produk herbalnya tidak hanya diminati masyarakat lokal, tetapi juga telah merambah pasar di luar Kalimantan.
Ibu empat anak ini mengungkapkan, seluruh proses produksi dilakukan secara manual. Ia sendiri yang memotong dan menggiling tanaman herbal untuk diolah menjadi teh herbal.
“Bahan-bahan yang saya gunakan sebagian besar berasal dari lahan yang kami kelola sendiri bersama keluarga. Namun, bibit tanaman tertentu harus kami cari di hutan yang masih alami, lalu kami budi dayakan di lahan tersebut,” jelasnya.
Berbekal inovasi ini, Kameliati telah menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk penghargaan dari Gubernur Sugianto Sabran pada tahun 2018 dan penghargaan dari mantan Presiden Joko Widodo pada tahun 2021 sebagai promotor obat tradisional khas Dayak.
“Selain penghargaan, saya sering mengikuti perlombaan terkait obat tradisional, dan biasanya saya meraih juara pertama,” tambahnya dengan bangga.
Usaha ini bukan sekadar tentang mencari nafkah. Bagi Kameliati, ini adalah panggilan jiwa untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur. Ia berharap pemerintah memberikan dukungan lebih dalam pengelolaan lahan tanaman herbal, agar produksi teh herbalnya bisa lebih efisien dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
“Saya ingin produk ini lebih dikenal. Harapannya, tiap instansi pemerintah dan hotel-hotel lokal menyediakan produk herbal khas Dayak ini, sehingga ramuan tradisional ini bisa mendunia,” tutupnya dengan penuh harap.
Kisah Kameliati adalah bukti nyata bahwa kecintaan pada budaya dan semangat untuk melestarikan tradisi dapat menjadi kekuatan untuk bertahan dan bersinar di tengah gempuran modernisasi. Baginya, mengenalkan ramuan tradisional Dayak bukan hanya bisnis, tetapi juga misi mulia untuk menjaga kearifan lokal yang tak ternilai harganya. (*/ce/uni)

