Asap Membawa Derita

oleh
  • Jarak Pandang Sampit Hanya 50 Meter, Kondisi Udara Berbahaya
  • Jarak Pandang Bandara Tjilik Riwut Sempat 100 Meter, Enam Penerbangan Batal

PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kalteng, membawa derita bagi masyarakat yang harus bertahan di tengah udara berbahaya. Jarak pandang di Sampit sempat anjlok hingga 50 meter, sementara di Palangka Raya, kabut asap mengganggu penerba­ngan dan membuat jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya turun hingga 100 meter.

bannerads728x90

Di tengah ancaman gangguan kesehatan dan keselamatan, aktivitas warga belum sepenuhnya berhenti. Namun, mereka yang tetap bekerja dan menjalani rutinitas bukan berarti keadaan telah normal. Asap kian pekat, udara kian tak sehat, dan derita masya­rakat terus berlanjut.

Di Kotim, kabut asap akibat Karhutla semakin mengkhawatirkan. Pada Senin (12/10), asap pekat masih menyelimuti Kota Sampit hingga menjelang siang, membuat kondisi udara tampak kekuningan dan membatasi jarak pandang warga.

RIFQI/KALTENG POS
ASAP PEKAT: Kabut asap melumpuhkan penerbangan, tampak asap menyelimuti Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Senin (12/10).

Kondisi udara yang memburuk menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup pada pukul 10.00 WIB, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai angka 358. Angka tersebut masuk kategori berbahaya.

Sementara itu, data real-time Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan jarak pandang di Sampit hanya sekitar 100 meter pada pukul 10.00 WIB. Bahkan, pada pagi hari, jarak pandang sempat merosot hingga sekitar 50 meter.

Di tengah kondisi tersebut, aktivitas masyarakat masih terlihat berlangsung. Sebagian warga tetap harus bekerja dan menjalankan rutinitas sehari-hari, meskipun udara yang dihirup tidak sehat.

Salah seorang guru, Mariyamah, mengatakan kabut asap kali ini terasa lebih tebal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jika biasanya asap mulai menipis ketika matahari meninggi, kali ini kondisi justru semakin pekat.

BAHRI/KALTENGPOS
MAKIN PEKAT: Kabut asap akibat karhutla makin pekat menyelimuti Kota Sampit, tampak kondisi asap berwarna kekuningan di kawasan Ikon Patung Jelawat, Senin (12/10).

“Hari ini sepertinya lebih parah dari sebelumnya. Walaupun kabut asapnya tebal, saya tetap turun ke sekolah untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak yang belajar dari rumah,” ujarnya.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran warga, terutama terhadap risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap yang terus berulang. Terlebih, kabut asap telah berlangsung dalam kurun waktu panjang dan berdampak pada masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan.

Meski kondisi asap semakin mengganggu kehidupan masyarakat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menilai peningkatan status karhutla menjadi bencana nasional belum diperlukan.

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyampaikan penilaian menurutnya, upaya penanganan karhutla masih berjalan sehingga peningkatan status karhutla menjadi bencana nasional belum menjadi kebutuhan saat ini.

“Belum. Ini kan persoalan kerja pun masih jalan. Cuma petani, nelayan, termasuk pekerja buruh memang sangat terdampak,” ungkap Agustiar.saat diwawancarai awak media saat berkunjung di Rumah Jabatan Bupati Kotim beberapa hari lalu.

Ia mengakui, kebakaran hutan dan lahan telah memengaruhi aktivitas serta penghidupan masyarakat. Dampak tersebut terutama dirasakan petani, nelayan, dan buruh yang menggantungkan pendapatan pada aktivitas lapangan.

Di sektor kesehatan, Agustiar menyebut pemerintah terus memantau perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) melalui rumah sakit. Pemantauan dilakukan untuk membandingkan jumlah kasus dengan kondisi normal.

“ISPA pun kami lihat. Kami kan sudah mengecek ke rumah sakit, tapi memang kenaikannya tidak begitu, kurang lebih 30 persen hingga 40 persen kenaikan ISPA daripada hari-hari biasanya,” katanya.

Kendati demikian, ia mengingatkan peningkatan kasus ISPA tidak selalu disebabkan oleh karhutla. Perubahan cuaca pada masa peralihan musim atau pancaroba juga dapat memicu gangguan pernapasan.

“Karena menyangkut ISPA ini, saat pancaroba pun bisa meningkat naik, bukan hanya saat karhutla,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng hingga 9 Oktober 2026, tercatat sebanyak 6.028 kejadian karhutla di wilayah provinsi tersebut. Total luas lahan yang terbakar mencapai 17.724 hektare, sementara jumlah titik panas (hotspot) tercatat sebanyak 271.528 titik.

Kotim menjadi kabupaten dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 3.248 hektare dari 1.079 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kotawaringin Barat dengan 382 kejadian yang menghanguskan 2.589 hektare lahan.

Sementara itu, Kabupaten Pulang Pisau berada di urutan ketiga dengan luas lahan terbakar mencapai 2.271 hektare dari 270 kejadian.

Besarnya luasan kebakaran tersebut memperlihatkan bahwa penanganan karhutla masih menjadi pekerjaan serius, terlebih ketika asap dari kebakaran terus mengganggu kualitas udara di sejumlah wilayah.

Sementara Ketua DPRD Kotim Rimbun menegaskan, dampak karhutla tidak bisa diukur hanya dari masih berlangsungnya aktivitas masyarakat. Menurutnya, warga tetap beraktivitas bukan karena situasi telah normal, melainkan karena kebutuhan hidup membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan.

“Kalau berbicara normal, ya tidak. Aktivitas masyarakat terganggu karena kondisi udara dan saat menghirup udara,” ujar Rimbun, Senin (12/10).

Ia menilai, paparan asap yang berlangsung terus-menerus berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan, baik dalam waktu dekat maupun jangka panjang. Selain kualitas udara yang memburuk, jarak pandang yang terbatas juga dapat mengganggu mobilitas dan meningkatkan risiko saat berkendara.

Karena itu, kondisi masyarakat yang masih bekerja, bersekolah, atau menjalankan kegiatan sehari-hari tidak semestinya dijadikan alasan untuk menganggap dampak karhutla tidak serius.

“Mereka suka tidak suka tetap beraktivitas. Tapi nanti dampaknya di kesehatan. Kalau berbicara normal, ya tidak normal. Karena jarak pandang terganggu, udara tidak sehat,” tegasnya.

Mengenai belum ditetapkannya karhutla di Kalteng sebagai bencana nasional, Rimbun menyebut keputusan tersebut menjadi kewenangan pemerintah berdasarkan penilaian dan pertimbangan yang berlaku.

“Kalau berbicara asap dan api ini, kita anggap sudah bencana nasional. Namun, untuk kebijakannya, kita serahkan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat,” katanya.

Rimbun mengapresiasi langkah penanganan yang dilakukan pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat. Namun, ia mengakui upaya pemadaman di lapangan masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan sarana dan prasarana serta sulitnya menjangkau sejumlah titik kebakaran.

Kondisi geografis Kotim yang didominasi lahan gambut turut memperberat penanganan. Lokasi kebakaran yang jauh dan akses infrastruktur yang belum memadai membuat petugas menghadapi tantangan dalam menjangkau titik api serta melakukan pemadaman secara efektif.

Pemerintah daerah, lanjutnya, telah melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah desa dan masyarakat untuk mendukung penanganan karhutla.

Meski demikian, kebakaran yang masih terjadi membutuhkan penanganan berkelanjutan dan langkah yang lebih efektif agar dampaknya tidak semakin meluas. Selain pemadaman, perlindungan kesehatan masyarakat juga perlu menjadi perhatian utama selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Kotim.

Dengan jarak pandang yang sempat hanya 50 meter dan kualitas udara yang masuk kategori berbahaya, Rimbun menegaskan bahwa kondisi saat ini jauh dari keadaan normal.

“Masyarakat memang masih terlihat beraktivitas, tetapi ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan tetap nyata, maka status karhutla menjadi bencana nasional perlu dipertimbangkan,” ucapnya.

Sementara itu, kabut asap juga masih mengganggu aktivitas penerbangan dan kualitas udara di Kota Palangka Raya. Jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut bahkan sempat turun hingga 100 meter pada Senin (12/10) pagi.

Berdasarkan data pemantauan Bandara Tjilik Riwut, jarak pandang pada pukul 05.00 waktu setempat tercatat 300 meter. Kondisi kemudian memburuk menjadi 100 meter pada pukul 05.30 hingga 06.00.

Jarak pandang berangsur meningkat menjadi 150 meter pada pukul 06.30, kemudian mencapai 200 meter pada pukul 07.00 hingga 08.00. Selanjutnya, jarak pandang tercatat 300 meter pada pukul 08.30 hingga 09.30. Data untuk pukul 10.00 dan seterusnya belum tersedia.

Sehari sebelumnya, Minggu (11/10), kabut asap juga berdampak terhadap operasional Bandara Tjilik Riwut. General Manager Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, menyampaikan bahwa jarak pandang minimum tercatat hanya 150 meter pada rentang pukul 14.30 hingga 15.00 WIB.

Kondisi tersebut menyebabkan enam penerbangan dibatalkan, terdiri dari tiga penerbangan kedatangan dan tiga penerbangan keberangkatan. Penerbangan yang terdampak meliputi Lion Air rute Surabaya-Palangka Raya, Batik Air rute Jakarta-Palangka Raya, serta Garuda Indonesia rute Jakarta-Palangka Raya.

Sementara itu, penerbangan keberangkatan yang dibatalkan meliputi Lion Air tujuan Surabaya, Batik Air tujuan Jakarta, dan Garuda Indonesia tujuan Jakarta.

Pihak bandara berkoordinasi dengan maskapai penerbangan, AirNav Indonesia, serta instansi terkait untuk menangani dampak kabut asap terhadap keselamatan dan kelancaran penerbangan. Penumpang juga diimbau memeriksa informasi terbaru melalui maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara.

Di sisi lain, kondisi kualitas udara di Palangka Raya pada Senin (12/10) dilaporkan berada pada kategori berbahaya. Meteorolog Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut, Renianata, menyebutkan nilai kualitas udara yang dilaporkan melampaui 1.000 mikrogram per meter kubik pada rentang pukul 00.00 hingga 08.00.

Jarak pandang secara umum juga dilaporkan berkisar 100 hingga 500 meter. Kondisi ini berkaitan dengan tingginya aktivitas karhutla, sementara angin yang umumnya bertiup dari timur hingga barat daya membawa asap dari wilayah Pulang Pisau dan Kapuas menuju Palangka Raya.

Masyarakat diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Warga juga diminta mewaspadai dampak paparan asap terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta kelompok rentan.

Terkait potensi hujan, pada 12–14 Oktober diprakirakan terjadi hujan ringan hingga lokal di wilayah utara Kalimantan Tengah, meliputi Murung Raya, Barito Utara, bagian utara Gunung Mas, dan bagian utara Kapuas.

Sementara pada 15–17 Oktober, peluang hujan diprakirakan meluas ke sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Barat, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Pulang Pisau, Kapuas, Palangka Raya, Murung Raya, dan Barito Utara.

Meski terdapat potensi hujan, masyarakat tetap diminta waspada terhadap kabut asap selama karhutla masih terjadi dan menjaga kesehatan dengan membatasi paparan asap. (bah/rif/ala)