
SAMPIT – Keamanan pangan menjadi perhatian utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap makanan yang sampai ke tangan siswa, tetapi dimulai dari bahan pangan hingga proses distribusinya ke sekolah.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kotim, Norliyana, mengatakan sejauh ini pelaksanaan MBG di wilayah tersebut belum menimbulkan kasus keracunan. Pengawasan dilakukan bersama Puskesmas terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi.
“Kalau MBG sejauh ini masih aman, tidak ada yang istilahnya keracunan karena kami juga melakukan pengawasan sama monitoring dan evaluasi terhadap dapur-dapur SPPG yang ada,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Saat ini terdapat tujuh SPPG yang telah menjalankan pelayanan di Kotim. Sejumlah titik berada di kawasan Jalan Yos Sudarso, Jalan Jeruk, Parenggean, Desa Pelantaran, serta beberapa wilayah lainnya.
Penerima manfaat program tersebut untuk sementara berasal dari siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Sementara itu, peserta didik tingkat sekolah menengah atas (SMA) belum menjadi penerima MBG di Kotim. “Kalau untuk SMA rasanya belum ada yang dapat MBG,” katanya.
Menurut dr Noorliyana, pemeriksaan dilakukan pada berbagai tahapan pengelolaan makanan. Petugas kesehatan di wilayah kerja masing-masing turut memastikan bahan yang digunakan layak, proses pengolahan berlangsung secara higienis, hingga makanan dikirim ke sekolah sesuai ketentuan.
“Pengawasan dari segi makanannya. Dari Puskesmas biasanya melakukan pemantauan mulai dari bahan-bahannya, bahan pangannya, kemudian cara memasaknya maupun pendistribusianya dan lain-lain,” jelasnya.
Pengawasan tersebut dilakukan secara berkala melalui monitoring dan evaluasi. Setiap dapur SPPG juga memiliki kewajiban melakukan pemeriksaan internal setiap hari melalui daftar pengecekan yang telah ditentukan.
“Setiap hari ada checklist-nya dan kami juga memeriksa. Ada item-item yang harus dipenuhi. Mereka juga sudah tahu apa yang harus dipenuhi supaya aman. Semua mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan,” pungkasnya.
Dinkes juga memberi perhatian terhadap keberadaan bakteri Escherichia coli atau E. coli. Kontaminasi bakteri tersebut menjadi salah satu risiko yang harus dicegah karena dapat memicu gangguan kesehatan, termasuk diare dan keracunan pangan.
“E. coli itu bisa menyebabkan diare. Itu yang berbahaya, jadi harus nol, tidak boleh ada sama sekali,” tegasnya.
Norliyana menerangkan, potensi masuknya E. coli ke makanan salah satunya dapat berasal dari air yang digunakan dalam proses pengolahan. Sementara itu, pemasakan dengan suhu yang sesuai dapat membunuh bakteri tersebut.
Dinkes Kotim memastikan seluruh SPPG yang saat ini terdata telah kembali menjalankan aktivitasnya dan makanan telah diterima oleh sekolah-sekolah sasaran. “Semua sudah berjalan. Sekolah-sekolah juga sudah menerima. Dan sampai sekarang aman, tidak ada kendala dalam pelaksanaan MBG,” ungkapnya.
Dengan pola pengawasan berlapis tersebut, Dinkes berupaya memastikan program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga memenuhi aspek keamanan makanan sejak berada di dapur hingga dikonsumsi penerima manfaat.(sos/bah/ktk-5/uyi)

