Cerita Wartawan Kalteng Pos Mengikuti Patroli Karhutla melalui Udara
Wartawan Kalteng Pos (penulis) berkesempatan merasakan sensasi mengikuti patroli kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) melalui udara. Dari atas ketinggian bisa secara melihat langsung kepulan asap dari sejumlah titik kebakaran.
M RIFQI PADILA, Palangka Raya
PAGI itu Minggu (9/8), suasana Bandara Tjilik Riwut tampak berbeda. Bukan pesawat penumpang yang menjadi perhatian, melainkan sebuah helikopter Bell 206 L3 yang bersiap menjalankan patroli udara. Penulis mendapat kesempatan mengikuti patroli udara bersama BNPB untuk memantau titik-titik panas dan karhutla di sejumlah wilayah.
Helikopter tersebut dikemudikan Capt Falah, pilot helikopter Bell 206 L3 dari PT Fly Bali Indoaviation. Sebelum diterbangkan, kru terlebih dahulu melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Bagian baling-baling atas dan belakang diperiksa. Mesin di bagian atas helikopter turut dicek. Perangkat komunikasi di dalam kabin juga dipastikan berfungsi dengan baik.
Setelah seluruh persiapan selesai, Capt Falah datang memberikan briefing kepada penumpang yang akan mengikuti penerbangan. Bagi penulis, penerbangan tersebut menjadi pengalaman pertama menaiki helikopter. โMas Rifqi sudah pernah naik heli?โ tanya Capt Falah.
Ketika dijawab belum pernah, ia kemudian mengingatkan bahwa penerbangan pertama dapat menimbulkan rasa pening dan mual.
โKalau pertama kali pasti terasa pening. Ada kemungkinan untuk muntah juga. Kalau mau pindah duduk, komunikasikan,โ ujarnya.
Tak ingin mengambil risiko, ia juga memastikan berbagai perlengkapan telah disiapkan di dalam helikopter.
Sebelum mesin dinyalakan, doa bersama dipanjatkan. Dokumentasi singkat dilakukan, sebelum akhirnya penumpang dipersilakan naik ke dalam kabin.
Headset kedap suara kemudian dipasang. Perangkat itu bukan hanya untuk meredam suara mesin helikopter yang cukup nyaring, tetapi juga menjadi alat komunikasi antara pilot dan penumpang selama penerbangan.
Ketika mesin mulai menyala, suara baling-baling semakin keras. Helikopter perlahan bergerak dan kemudian terangkat meninggalkan landasan.
Guncangan terasa pada awal penerbangan. Badan helikopter terasa bergerak ke kiri dan kanan. Namun setelah mulai berada di ketinggian, rasa tidak nyaman perlahan menghilang.
Perjalanan patroli kali ini menggunakan rute sortie 1, wilayah timur-utara Kalteng, dengan waktu perjalanan sekitar tiga jam hingga kembali ke Bandara Tjilik Riwut. Tak lama setelah berada di udara, Capt Falah mulai menunjukkan titik yang menjadi sasaran pemantauan.
Titik pertama terlihat di Kameloh Baru. Kepulan asap tampak tipis dari kejauhan. Perjalanan kemudian berlanjut menuju titik berikutnya di Kecamatan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau. Dari atas, kawasan tersebut terlihat sebagai bagian dari bentang alam luas yang dipenuhi vegetasi dan lahan.
Perjalanan menuju titik berikutnya masih membutuhkan waktu lebih dari 30 menit. Capt Falah sempat menyarankan agar penulis beristirahat untuk mengurangi rasa pening.
Namun kesempatan untuk melihat Kalteng dari udara terasa terlalu berharga untuk dilewatkan. Dari ketinggian, wajah Kalteng terlihat berbeda. Hutan lindung, perkebunan sawit, kawasan pertambangan hingga berbagai bentang lahan lainnya terlihat dalam satu pandangan.
Pemandangan itu sekaligus menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, terlihat luasnya alam Kalteng yang masih menyimpan bentangan hijau. Namun di sisi lain, aktivitas manusia juga terlihat membentuk perubahan pada lanskap.
Perjalanan berlanjut hingga Capt Falah kembali menunjukkan titik api. Kali ini berada di Pujon, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas. Asap terlihat dari kejauhan. โItu titik api baru ya, Capt? Tapi kecil,โ tanya penulis.
โBetul. Semoga untuk titik ini tidak membesar,โ jawab Capt Falah.
Titik kecil itu kemudian ditinggalkan untuk melanjutkan pemantauan ke lokasi berikutnya. Namun setelah lebih dari dua jam berada di udara, tubuh mulai merasakan dampak perjalanan. Terlalu lama melihat ke bawah sembari mengambil gambar membuat rasa pening mulai muncul.
Satu jam kemudian, Capt Falah kembali memberikan informasi mengenai titik api yang akan dipantau. Lokasinya berada di Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau. Helikopter bergerak menuju lokasi. Dari kejauhan, kepulan asap mulai terlihat. Semakin dekat, asap tampak lebih jelas dan lebih tebal dibandingkan titik sebelumnya. โIni ya, Capt? Titik api baru sudah membesar?โ tanya penulis.
โBenar sekali. Untuk pantauan kemarin, daerah ini tidak ada sebelumnya,โ jawab Capt Falah.
Temuan tersebut menjadi salah satu gambaran penting dari patroli udara. Titik yang sebelumnya belum terlihat dalam pemantauan dapat ditemukan ketika dilakukan pengecekan kembali dari udara.
Dari dalam helikopter, titik api itu memang terlihat kecil dibandingkan luasnya bentang alam di sekitarnya. Namun keberadaannya menjadi perhatian karena api dapat berkembang jika kondisi di lapangan mendukung. Setelah seluruh rute patroli selesai, helikopter mulai mengambil arah kembali menuju Bandara Tjilik Riwut.
Tiga jam berada di udara akhirnya berakhir. Helikopter mendarat dengan selamat. Tidak ada muntah seperti yang sempat dikhawatirkan Capt Falah sebelum penerbangan. Hanya rasa pening dan lelah yang tersisa setelah berjam-jam berada di udara.
Patroli udara pun bukan sekadar perjalanan melihat alam dari ketinggian. Di balik penerbangan tersebut ada upaya mencari tanda-tanda awal kebakaran, memastikan titik yang terpantau dan memberikan gambaran kondisi lapangan kepada tim yang melakukan penanganan. Dari atas helikopter, luasnya Kalimantan Tengah sekaligus memperlihatkan besarnya tanggung jawab untuk menjaganya.
Hutan, perkebunan, pertambangan dan berbagai aktivitas manusia hidup berdampingan dalam satu bentang alam. Ketika satu titik api muncul, sekecil apa pun, ia menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak bisa hanya dilakukan setelah api membesar. (*/ala)

