PALANGKA RAYA – Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram bukan sekadar penanda bertambahnya usia dalam kalender Hijriah. Ini merupakan momentum ajakan bagi umat Islam untuk melakukan hijrah, memperbaiki diri, sekaligus memperkuat kepedulian terhadap sesama di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalteng H. M. Yusi Abdhian, mengatakan bahwa Tahun Baru Islam dimaknai sebagai momentum esensial untuk melakukan transformasi spiritual dan evaluasi diri atau muhasabah.
Menurutnya, hijrah yang menjadi dasar penanggalan Hijriah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan fisik sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku menuju pribadi yang lebih baik.
“Kementerian Agama memaknai Tahun Baru Islam atau 1 Muharram sebagai momentum esensial untuk melakukan hijrah, transformasi spiritual, serta evaluasi diri. Hijrah tidak sekadar dimaknai sebagai perpindahan fisik, melainkan perubahan pola pikir dan perilaku menuju pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama,” ungkapnya, Selasa (16/6).
Ia menjelaskan, semangat hijrah perlu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui upaya memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat akhlak, serta meningkatkan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Momentum pergantian tahun Hijriah, lanjut Yusi, seharusnya menjadi ruang refleksi bagi setiap Muslim untuk melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui. Apa yang telah dilakukan selama setahun terakhir, apa yang perlu diperbaiki, dan kebaikan apa yang harus ditingkatkan pada tahun berikutnya.”Jangan sampai pergantian tahun hanya menjadi rutinitas seremonial. Muharram harus menjadi pengingat agar kita terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bermanfaat,” katanya.
Di tengah berbagai persoalan sosial dan tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, Yusi menilai nilai-nilai hijrah justru semakin relevan untuk diimplementasikan.
Ia menegaskan bahwa hijrah bukan hanya tentang transformasi spiritual pribadi, melainkan juga semangat solidaritas sosial untuk membantu masyarakat keluar dari kesulitan ekonomi yang dihadapi.
“Semangat hijrah bukan hanya tentang transformasi spiritual pribadi, tetapi juga wujud solidaritas dan kepedulian sosial untuk mengentaskan masyarakat dari kesulitan ekonomi. Dalam konteks masa kini, hijrah dimaknai sebagai gerakan kolaboratif untuk berbagi, memberdayakan sesama, dan membangun kemandirian ekonomi umat,” jelasnya.
Menurut Yusi, ada sejumlah langkah konkret yang dapat dilakukan masyarakat sebagai implementasi semangat hijrah di era sekarang.
Pertama, melalui pemberdayaan ekonomi umat. Ia mendorong terjalinnya kolaborasi antar pelaku usaha, termasuk memberikan ruang dan akses kepada kelompok rentan melalui pembiayaan syariah maupun koperasi agar mereka memiliki kesempatan untuk mandiri secara finansial.
“Pemberdayaan ekonomi menjadi penting. Kita perlu membangun kolaborasi, saling menguatkan, dan membuka akses yang lebih luas agar masyarakat mampu bangkit dan berdiri di atas kakinya sendiri,” ungkapnya.
Kedua, memperkuat jaring pengaman sosial melalui optimalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf atau ZISWAF. Menurutnya, potensi filantropi umat harus dikelola secara baik melalui lembaga resmi agar manfaatnya dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara masif melalui lembaga resmi seperti BAZNAS dapat menjadi solusi nyata untuk membantu kelompok masyarakat yang paling terdampak secara ekonomi,” tuturnya.
Selain itu, aksi kemanusiaan berkelanjutan juga perlu terus digalakkan. Gerakan santunan kepada anak yatim, dhuafa, serta berbagai kegiatan berbagi yang diinisiasi pemerintah, lembaga keagamaan, maupun komunitas dinilai mampu meringankan beban masyarakat sekaligus mempererat persaudaraan.
Ia menilai, semangat gotong royong yang tumbuh dari nilai-nilai hijrah dapat menjadi kekuatan sosial yang besar ketika masyarakat menghadapi masa-masa sulit.
“Nilai solidaritas mampu menyambungkan mereka yang memiliki kelebihan rezeki dengan mereka yang kekurangan. Semangat hijrah harus menjadi solusi riil di tengah tantangan ekonomi yang kita hadapi bersama,” katanya.
Yusi berharap, peringatan Tahun Baru Islam tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, momentum 1 Muharram diharapkan mampu melahirkan kesadaran kolektif untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, memperkuat kepedulian sosial, serta membangun optimisme dalam menghadapi masa depan.
“Jika semangat hijrah benar-benar kita hidupkan, maka kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga menghadirkan manfaat yang nyata bagi sesama. Dari sanalah lahir masyarakat yang kuat, mandiri, dan saling menguatkan,” tegasnya.
Sementara itu Pendakwah Muda Ustaz Syaifulah Sahlan, mengingatkan bahwa makna Tahun Baru Islam sangat berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang identik dengan pesta dan kemeriahan. Menurutnya, 1 Muharram adalah waktu untuk reset hati dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
“Kalau tahun baru Masehi identik dengan pesta kembang api, maka Tahun Baru Islam adalah momentum reset hati. Ini bukan party time, tetapi tobat time,” ujarnya, Selasa (16/6).
Ia menjelaskan, penanggalan Hijriah tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW maupun peristiwa turunnya wahyu pertama. Kalender Islam justru ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah.
Menurutnya, keputusan para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab menjadikan hijrah sebagai awal penanggalan Islam bukan tanpa alasan. Hijrah merupakan titik balik perjalanan umat Islam; dari kondisi tertindas menjadi kuat, dari tercerai-berai menjadi tertata, hingga mampu membangun peradaban.
“Hijrah mengajarkan bahwa umat Islam adalah umat yang berani berubah demi Allah SWT,” katanya.
Selain itu, Muharram juga merupakan salah satu bulan mulia yang disebut Nabi Muhammad SAW sebagai Syahrullah atau bulan Allah. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar setelah Ramadhan.
Lebih lanjut, Ustadz Syaifulah menilai 1 Muharram merupakan momentum muhasabah atau introspeksi diri. Pergantian tahun menjadi pengingat bahwa usia terus berkurang dan manusia semakin dekat dengan akhir kehidupannya.
“Tanyakan pada diri sendiri, selama setahun terakhir apakah amal kita bertambah atau justru berkurang. Muharram mengajarkan kita membuat laporan tahunan kepada Allah,” tuturnya.
Ia mengajak umat Islam mengevaluasi berbagai aspek kehidupan, mulai dari penggunaan waktu, target ibadah, hingga lingkungan pergaulan. Menurutnya, seseorang perlu bertanya berapa banyak waktu yang digunakan untuk beribadah, bersama keluarga, atau justru habis untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.
“Hijrah tanpa target sering kali berhenti di tengah jalan. Karena itu, tahun baru Hijriah harus menjadi titik tolak perubahan nyata menuju pribadi Muslim yang lebih baik,” ucapnya.
Di tengah berbagai persoalan sosial dan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, Ustadz Syaifulah menilai nilai-nilai hijrah justru semakin relevan untuk diterapkan.
Ia mengatakan, hijrah tidak selalu dimaknai sebagai berpindah tempat, tetapi berpindah dari cara hidup yang tidak produktif menuju kehidupan yang lebih berkah.
“Hijrah pertama adalah dari rasa cemas menuju tawakal. Kesulitan ekonomi jangan sampai membuat kita menjauh dari Allah. Rezeki sudah dijamin, tugas kita adalah berikhtiar dan bertawakal,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diajak berhijrah dari perilaku konsumtif menuju produktif. Ia menyarankan agar keluarga mulai mengevaluasi pengeluaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta berani membuka peluang usaha baru sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Sedikit tetapi berkah jauh lebih baik daripada banyak tetapi diperoleh dengan cara yang tidak halal,” tegasnya.
Tidak kalah penting, semangat hijrah juga harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial. Menurutnya, persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah merupakan contoh nyata bagaimana gotong royong menjadi solusi menghadapi kesulitan bersama.
Ia mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya saling membantu melalui koperasi, komunitas usaha kecil, sedekah, maupun memperkuat silaturahmi.
“Jangan menutup diri saat sedang sulit. Sering kali rezeki datang melalui jaringan silaturahmi. Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya,” tuturnya.
Ustadz Syaifulah juga mengajak umat Islam menjadikan 1 Muharram sebagai awal dari hijrah-hijrah kecil dalam kehidupan sehari-hari.
“Hijrah bisa dimulai dari hal sederhana, dari menunda salat menjadi tepat waktu, dari pelit menjadi gemar bersedekah, dari sibuk dengan gawai saat azan berkumandang menjadi segera berwudhu. Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian kalender, tetapi kesempatan memperbaiki diri sebelum waktu benar-benar habis,” pungkasnya. (zia/ala)

