Ketika Gagal Ginjal Mulai Menyerang Usia Muda
Dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia, dua dokter mengingatkan bahwa penyakit ginjal kini tidak hanya menyerang usia lanjut. Pola hidup tidak sehat, konsumsi minuman manis kemasan hingga kurangnya kesadaran memeriksakan kesehatan menjadi faktor risiko yang semakin banyak ditemukan pada anak muda bahkan anak-anak.
FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya
DALAM podcast edukasi kesehatan di podcast Ruang Redaksi, dua dokter yakni dr. Ekky Adrianto Gampa dan dr. Febiola Yasmin Aseana membahas berbagai hal terkait penyakit ginjal, mulai dari penyebab, gejala awal hingga langkah pencegahan, Rabu (11/3). Poncast ini juga bisa disaksikan di kanal YouTube Kalteng Pos.
Ekky Adrianto Gampa menjelaskan bahwa penyebab utama penyakit ginjal kronis yang paling sering ditemukan pada pasien adalah hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus. Kedua penyakit ini secara perlahan dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga mengganggu kemampuan ginjal dalam menyaring darah.

BAHAS KESEHATAN: dr Ekky Adrianto Gampa dan dr Febiola Yasmin Aseana menjadi narasumber di Podcast Ruang Redaksi, Rabu (11/3).
“Paling sering itu hipertensi, kemudian yang kedua diabetes. Dari pengalaman kami menangani pasien, hampir lebih dari separuh pasien ginjal memiliki riwayat tekanan darah tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir kasus penyakit ginjal semakin sering ditemukan.
Bahkan hampir setiap hari terdapat pasien baru yang terdiagnosis mengalami gangguan ginjal, baik yang bersifat akut maupun yang sudah memasuki tahap kronis.
“Ada yang datang ketika fungsi ginjalnya sudah sangat menurun sehingga harus langsung menjalani cuci darah atau hemodialisis,” jelas dr. Ekky.
Meski umumnya menyerang usia lanjut, dokter juga mulai menemukan kasus pada usia yang lebih muda. dr. Febiola mengungkapkan bahwa pola hidup menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ginjal.
“Kami pernah menemukan pasien anak usia 9 sampai 10 tahun yang sudah menjalani cuci darah. Setelah ditelusuri, ternyata anak tersebut hampir tidak pernah minum air putih dan lebih sering minum minuman kemasan seperti teh manis botolan atau minuman sachet,” ungkapnya.
Menurut dr. Febiola, ginjal bekerja layaknya sistem penyaring dalam tubuh. Di dalam ginjal terdapat unit penyaring mikroskopis yang disebut nefron yang berfungsi membersihkan darah dari zat sisa metabolisme dan racun.
Ia menggambarkan proses kerja ginjal seperti mencuci piring. Jika proses pencucian menggunakan air bersih, maka kotoran akan mudah hilang. Namun jika cairan yang masuk ke tubuh banyak mengandung gula atau zat tambahan, maka proses penyaringan tidak akan berjalan optimal.
“Kalau kita minum air putih, proses penyaringan di ginjal berjalan lebih bersih. Tapi kalau yang diminum minuman berwarna atau tinggi gula, maka sisa-sisanya bisa menumpuk di dalam ginjal,” jelasnya.
Penumpukan zat sisa tersebut dalam jangka panjang dapat merusak jaringan ginjal dan menurunkan fungsinya secara bertahap.
Karena itu, salah satu langkah paling sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal adalah mencukupi kebutuhan air putih setiap hari. Untuk orang dewasa, kebutuhan minimal air putih sekitar dua liter per hari, meski jumlah ini dapat disesuaikan dengan berat badan dan aktivitas.
Cara paling mudah mengetahui apakah tubuh kekurangan cairan adalah dengan memperhatikan warna urin.
“Kalau warna urin sudah kuning pekat, itu tandanya tubuh kekurangan cairan. Artinya kita harus menambah asupan air putih,” ujar dr. Febiola.
Selain itu, dr. Ekky juga menjelaskan beberapa tanda awal gangguan ginjal yang perlu diwaspadai masyarakat. Salah satunya adalah pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah akibat penumpukan cairan dalam tubuh.
“Gejala yang sering muncul biasanya badan terasa lemas, kaki bengkak, atau produksi urine berkurang. Kadang juga disertai anemia karena produksi sel darah merah menurun pada pasien dengan gangguan ginjal,” katanya.
Penumpukan cairan bahkan bisa terjadi di rongga perut atau paru-paru jika kondisi sudah cukup berat. Bagi pasien yang sudah menjalani hemodialisis atau cuci darah, pengaturan cairan dan makanan menjadi hal yang sangat penting. Pasien harus membatasi jumlah cairan yang diminum sesuai dengan jumlah urine yang masih diproduksi tubuh.
Sebagai contoh jika dalam 24 jam pasien hanya mengeluarkan 500 mililiter urine, maka jumlah cairan yang boleh diminum sekitar 700 mililiter per hari.
“Biasanya kami menyarankan pasien membawa botol minum dengan ukuran tertentu agar mereka bisa mengontrol jumlah cairan yang masuk,” jelas dr. Ekky.
Selain cairan, pasien juga perlu berhati-hati dalam mengonsumsi makanan yang tinggi kalium seperti beberapa jenis buah dan sayuran, karena dapat memicu penumpukan kalium dalam darah.
Sementara bagi masyarakat yang masih sehat, menjaga ginjal sebenarnya dapat dilakukan dengan langkah sederhana, yaitu menerapkan pola hidup sehat.
dr. Febiola menyebutkan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan, di antaranya cukup minum air putih, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta tidur cukup.
“Olahraga tidak harus berat. Lari kecil atau jalan kaki sekitar 30 menit setiap hari sudah cukup untuk menjaga kesehatan tubuh,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa anjuran dokter. Penggunaan obat dalam jangka panjang tanpa pengawasan medis dapat berisiko merusak ginjal.
“Kadang kita merasa cocok dengan satu obat lalu terus dikonsumsi tanpa konsultasi. Padahal kita tidak tahu efek jangka panjangnya terhadap tubuh, termasuk ginjal,” kata dr. Febiola.
Keduanya juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama bagi mereka yang berusia di atas 35 tahun atau memiliki riwayat penyakit dalam keluarga.
Menurut mereka, deteksi dini sangat penting agar gangguan ginjal dapat diketahui lebih awal sebelum kondisinya semakin parah.
“Kesadaran untuk memeriksakan kesehatan masih rendah. Padahal dengan pemeriksaan sederhana seperti mengecek tekanan darah atau tes darah, kita bisa mengetahui kondisi tubuh sejak dini,” pungkas dr. Ekky. (*/ala)

